Saya pernah membaca buku bergambar cacing di toko buku. Setelah selesai membacanya, saya membelinya dan membacanya lagi di rumah. Jarang-jarang saya membaca sebuah buku berulang-ulang. Buku itu membantu saya melewati kesedihan saya waktu itu, Kesedihan-kesedihan yang sulit dijelaskan secara logika. Setelah kesedihan itu muncul album “THR”. Silahkan teman-teman dengarkan di Spotify atau di Youtube atau di Archive.org jika berkenan.

Buku itu adalah “Cacing dan Kotorannya” karya biksu Ajahn Brahm. Hampir semua cerita di buku itu menyentuh hati saya. Kamu udah pernah baca? Buku itu berisi padatan pengalaman si penulis berpuluh tahun, seperti saat dia mendampingi napi-napi di penjara, menjadi pembicara di seluruh dunia, dan menjadi salah satu warga termiskin di australia, karena biksu tidak punya pendapatan, katanya. Buku itu membuat saya merefleksikan lirik lagu Tualang yang saya gubah, “memandang dunia dari sudut yang berbeda”.

Kalau tidak salah, cerita pertama di buku itu adalah tentang sebuah batu bata yang miring dan tidak enak dipandang. Ajahn Brahm gelisah dengan dinding bata yang ia bangun. Ada sebuah bata yang miring sehingga membuatnya tidak enak dipandang. Ternyata orang lain tidak ada yang masalah dengan 1 batu bata miring itu, sebab batu bata yang lainnya sempurna.

Kadang kita fokus pada 1 hal yang negatif dan melupakan limpah ruah positifitas yang hadir disekitar kita. Di tengah musibah karena virus corona ini, semoga tiap masing-masing mau “memandang dunia dari sudut yang berbeda”. Sulit mungkin, tapi bisa.

Sehat selalu untuk semuanya. Selamat memandang 99 dari 100 batu bata yang masih tetap indah disekitar kita.

Yogyakarta, 25 Maret 2020
Jono Terbakar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0