“Anak saya tidur di kamarnya sendiri sejak usianya 1 tahun”, begitu kata seorang perempuan yang rumahnya kami datangi. Ia orang Indonesia yang menikah dengan orang Eropa. Beberapa kali juga saya menemui anak-anak yang mandiri begitu. Anak-anak “barat” cenderung lebih mandiri, dalam hemat saya yang mungkin salah. Saya kagum dan pada waktu itu menginginkan anak-anak saya bisa seperti itu.

Setelah menjalani sendiri peranak-anakan, saya jadi sadar bahwa saya dibesarkan bukan dengan cara seperti itu. Waktu kecil sering digendong, makan sering didulang, tidur ditemani, mandi dimandikan. Sampai sudah punya anak pun, saya bukan orang yang sepenuhnya mandiri dan hidup sendiri tanpa ada hubungan dengan orang tua. Blas a.k.a sama sekali tidak seperti pola asuh orang yang saya sebut di paragraf pertama tadi. Lalu bagaimana saya harus membesarkan anak saya dengan cara berbeda?

Ada satu hal yang melegakan hati, salah satunya adalah sebuah paragraf dari buku Healing Hands karya …….. Disitu disebutkan bahwa ada banyak penelitian tentang energi-energi kasih sayang. Sayangnya kurang dikaji dan mungkin karena metafisik jadi sering dianggap tidak ilmiah. Dijelaskan di buku itu budaya timur lebih menekankan kedekatan ibu dan anak daripada kemandirian. Karena pada saat dewasa, secara kulturan adalah ketergantungan bukan kemandirian individualis.

Kenapa saya pingin nulis ini? Barangkali ada disini yang sedang atau akan membesarkan anaknya dan kadang stres dengan pola asuh yang berbeda antara generasinya dan generasi orang-orang tuanya. Santai saja guysq. Semuanya berkasih dan bersayang namun dengan cara yang berbeda-beda. Boleh baca buku, tapi aplikasinya sesuaikan dengan lingkungan. Menerima dari awal atau melawan dulu dan pada akhirnya menerima. Tak perlu perang dunia gara-gara perbedaan pola pikir pengasuhan anak. Semuanya sayang.

Siapakah kita?

Yogyakarta, 29 Oktober 2019

Nihan Lanisy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *