Baru saja, saya sampai di Caruban, setelah melewati perjalanan membosankan 100an km di tol trans jawa. Kebosanan itu sedikit terobati dengan hadirnya lagu-lagu yang disetel dari spotify berbayar yang akunnya disponsori (atau dengan kata lain: pinjam) punya kakak saya. Ora modal bocahe.

Perjalanan ini menarik kembali ingatan tentang #jonoterbakarworldtour sebulan yang lalu di Jakarta. Saya berangkat naik bis malam. Hampir semua bis malam menyetel lagu dangdut, seingat saya biasanya non-stop. DJ (yang memilihkan lagunya) kadang supirnya, kadang kernetnya.

Sebelum berangkat tur kemarin, saya sempat survei di Youtube. Saya riset tentang bis, demi kenyamanan diri dan budget tur hehe. Lha kok malah saya nemu komentar begini di salah satu video, “Pelayanan bagus tapi sayang lagunya dangdut. Seharusnya dengan harga segitu penumpang disuguhi lagu-lagu top40”. Orang itu berkomentar di sebuah video trip report sebuah bis dengan kelas eksekutif dan agak mahal harga tiketnya. “Iya juga sih”, batin saya.

Hal barusan membuat saya berpikir bahwa sebenarnya ada sesuatu yang unik dari dunia per-bis-an. Kalau dari ilmu bisnis modern, harusnya jasa itu customer-centered. Orang-orang bayar untuk dilayani dan semakin kita melayani dengan baik akan muncul kepelangganan. Tapi, dari satu variabel saja yang bernama “lagu yang diputar selama perjalanan” justru berkebalikan dengan customer-centered tadi. Lagu-lagunya malah employee-centered. Fokus pelayanannya ke pegawai perusahaan.

Sebagai konsumen, saya, seperti halnya pembuat komen di video tadi, sah-sah saja untuk komplain. Namun, kalau supirnya bosen dan ngantuk terus amit-amit kecelakaan gimana?

Perjalanan jogja-caruban barusan menyadarkan saya tentang hal itu. Dunia ini tidak saklek. Dan dunia perbis-bisan mengajarkan hal itu. Soalnya barusan saya ngalami sendiri bagaimana rasanya nyetir sambil ndengerin lagu yang tidak saya ketahui, saya hafal, dan saya sukai. Ngantuk.

Akhir kata, perlu seminar internasional lebih lanjut untuk hal ini. Dan perlu kita pahami bersama, untuk mengakhiri tulisan ini, bahwasanya yang diputar bis-bis itu sejatinya adalah Top40 koplo. Asolole.

Caruban, 26 Oktober 2019

Nihan Lanisy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *