CD-CD

Kabar gembira! Sangat Records telah merilis CD dari album Fermenasi (2019), THR (2019), dan I Love You, You Dont Love Me, Its Okay (2019). Dapatkan CD-nya di jonoterbakar.com/shop atau DM ke instagram @jonoterbakar (nanti akan diarahkan ke website juga)

Selamat mengkoleksi. Gapunya playernya gapapa, ini adalah artefak kebudayaan lho #SAae.

Yogyakarta, 15 Oktober 2019
Nihan Lanisy

Mengenang Blink182

Pagi ini, motor saya melaju ke Pogung. Tepatnya ke Kopi Sembilan untuk bertemu Asyam a.k.a @topiputih demi mengantar kaos I Cant Draw yang dipesan oleh kekasihnya #cie.

PLN sedang menyebalkan. Listrik padam saat saya datang. Namun, karena tau saya datang tak lama kemudian lampu menyala tanda listrik sudah sehat. #savedahlaniskan

Setelah menyalakan AC, sebuah komponen penting untuk hari yang terlampau terik ini, Asyam menghubungkan sesuatu ke speaker. Tiba-tiba sebuah track dari Blink182 meluncur. Disambung lagi dengan track selanjutnya. Dan terus menerus tak berhenti.

Saya jadi ingat waktu SMP punya band namanya Phitoenkx (#alay). Suatu waktu kami bermain di sebuah acara di Kampung Krapyak.

“Radja, Mas!”, kata anak-anak di depan panggung

“Lagu opo?”, tanyaku

“Jujur”, katanya. Kala itu Radja sedang sangat populer

“Ok! Satu lagu dari Radja”, dan kami pun malah memainkan lagu Blink182 yang berjudul Family Reunion yang isinya cuma misuh2, liriknya kurang lebih begini ****, ****, **** (disensor karena parental advisory)

Blink182 menemani masa-masa puberku. Pengaruhnya mungkin bisa terasa pada karya-karya saya. Menurutmu, adakah lagu Jono Terbakar yang ada “rasa” Blink182-nya?

Yogyakarta, 2 Oktober 2019

Nihan Lanisy

Perpustakaan

Saya sedang membaca buku “Bilang Begini Maksudnya Begitu” karya Sapardi Djoko Damono saat menuliskan tulisan ini. Saya membacanya di Perpustakaan Kota Yogyakarta, pukul 09.00 selepas mengantar anak saya ke museum.

Pada halaman ke-20, saya ingin berhenti dan menuliskan sesuatu. Untuk yang belum tau, perpustakaan ini berada di daerah Kotabatu, Yogyakarta. Perpustakaan ini terletak beberapa meter dari Gramedia dan Togamas, dua toko buku besar di Jogja.

Buku yang saya baca terbitan Gramedia. Mungkin masih ada di kedua toko buku yang saya sebut tadi. Namun di perpustakaan saya bisa mengaksesnya gratis, bersamaan dengan ribuan buku menarik lainnya yang mungkin akan saya baca kemudian.

Apakah membaca penting? Bisa penting, bisa tidak. Masyarakat Indonesia bukannya tidak suka membaca namun, dalam hemat saya, mayoritas kita mungkin tidak semuanya suka membaca tulisan. Kita membaca youtube, membaca uraian cerita teman-teman kita, dan membaca situasi dan kondisi. Tingkat literasi kita boleh saja dianggap rendah, kalau indikator penilaiannya adalah buku.

Saya tidak mau membuat buku penting dan tidak penting, namun setiap orang rasanya punya caranya sendiri untuk belajar. Buat yang suka membaca, Perpusnas menyediakan e-resources untuk bisa akses artikel-artikel jurnal ilmiah dan buku-buku akademik secara gratis.

Sebentar, saya awalnya menulis ini cuma karena ingin menggambarkan lucunya letak perpustakaan ini yang berdekatan dengan 2 toko buku. Perpustakaan ini jadi oase bagi kantong tipis saya. Dan perpustakaan ini jadi membuat timbul satu tanya: “kalau semua orang menyumbangkan 1 buku ke perpustakaan, toko buku mungkinkah mati?”. Pertanyaan itu secara serampangan saya jawab sendiri,”Ada tuhan yang menyeimbangkan hal-hal yang kupertanyakan”.

Akan tetap ada orang yang membeli karena koleksi, apresiasi, atau mungkin sekedar khilaf dan gengsi. Dan perpustakaan akan selalu ada, walaupun masyarakatnya tidak memanfaatkannya secara maksimal

Yogyakarta, 1 Oktober 2019
Nihan Lanisy

Saling

Semalam (29/9) kami bermain di Bundaran Filsafat UGM pada acara Gadjah Mada Agro Expo. Penonton yang hadir memberi semangat tersendiri pada penampilan kami. Meski area penonton gelap, kami dari panggung dapat mendengar dan melihat sayup-sayup suara penonton ikut bernyanyi.

Beberapa panggung sebelumnya, kami main di beberapa tempat yang energi penontonnya berbeda dari semalam. Yang saya rasakan di atas panggung juga berbeda. Bagai seorang pengumpan yang bolanya tidak disambut oleh striker di depan. Dingin.

Untuk itu, melalui tulisan ini saya cuma mau menyimpukan bahwa asik-tidak-asiknya penampilan Jono Terbakar ada pada “saling” kita. Bukan tugas kami, bukan tugas teman-teman yang menonton. Kebahagiaan adalah tugas kita bersama. Untuk membahagiakan dan dibahagiakan.

Terimakasih untuk penonton di Agro Expo yang telah sudi bertukar energi tak teraba di panggung semalam. Cikidaw!

Yogyakarta, 30 September 2019
Nihan Lanisy

Jono Terbakar X Iwe Ramadhan

Iwe Ramadhan membuat artwork yang terinspirasi dari panasnya situasi akhir-akhir ini. Karena panas-panasan identik dengan Jono Terbakar yang sebenarnya cool, maka kami berkolaborasilah.

Kaos kolaborasi Jono Terbakar X Iwe Ramadhan masuk dalam salah satu program bulanan Jono Terbakar yang bernama “Kaos Artist Series”. Kaos kolaborasi kami ini adalah edisi Artist Series #1 yang jatuh pada bulan September-Oktober 2019. Bulan Oktober-November 2019 akan menghadirkan visual artist lain.

Kaos ini rencananya tidak akan dibuka pemesanannya lagi di masa depan. Silahkan amankan koleksimu di jonoterbakar.com/shop atau langsung ke laman produknya di jonoterbakar.com/product/oct19 . Pemesanan dibuka sampai 4 Oktober 2019.

Ssssst, ada diskon 20k untuk pemesanan via web pada tanggal 28-30 September 2019. Join juga grup WA anti-jonoterbakar untuk promo2 mengejutkan lainnya

Yogyakarta, 28 September 2019

Nihan Lanisy

Kaos Polos Jono Terbakar

Jono Terbakar pernah membuat sebuah kaos yang fenomenal.

Seorang teman bernama Bagus, bukan nama palsu, adalah pengguna kaos polos. Setiap hari ia menggunakan kaos polos warna hitam. (alm) Steve Jobs pun dulu setau saya juga begitu #soktau: terlalu banyak keputusan lain yang lebih penting daripada bingung memutuskan mau pakai baju apa hari ini. Kurang lebih begitu. Semoga.

Suatu hari Bagus mau beli kaos Jono Terbakar. Sayangnya, hampir semua kaos Jono Terbakar adalah kaos yang ada gambar atau tulisannya. Tidak ada yang polos.

Karena kami menghargai keunikan setiap orang, akhirnya saya pesankan sebuah kaos spesial untuk Bagus. Sebuah kaos polos Jono Terbakar yang ga polos-polos amat. Ada logo kecil Jono Terbakar di tengkuk bagian dalam. Barangkali suatu hari khilaf atau berubah pikiran, kaosnya tinggal dibalik saja hehe.

Terimakasih sudah membuat saya merasa seperti Giordano, Uniqlo, Riders, dan Gildan.

Oiya, kalo kamu pingin kaos polos Jono Terbakar bilang lho ya. Jangan memendam perasaan, Milea.

Yogyakarta, 26 September 2019
Nihan Lanisy

Dan Kini Dia Menghilang….

Sebut saja Iwan. Sepatunya baru saja hilang 2 pasang. Diambil orang, katanya. Beberapa pasang sepatu lain juga raib. Namun ia merasa pantas jadi yang paling sedih karena saat semua orang kehilangan sepasang, ia harus kehilangan dua pasang.

Saya jadi ingat cerita seorang teman yang pernah kehilangan sepeda. Setelah kasusnya diusut, ternyata malingnya adalah sindikat maling sepatu kos-kosan. Bukan maling sepeda. Sepeda seperti uang, yang merupakan bonus saja saat kita gigih dan giat berusaha.

Kembali ke Iwan, ia lalu mendengarkan Sepatu Sporty. Beberapa hari kemudian ia bertemu dengan sang penyanyi. Ngalor ngidul mereka bicara, tak lupa juga ngulon ngetan.

Sang penyanyi lalu pulang setelah berbincang. Ia menemukan hal baru. Bahwa sepatu tidak sporty yang tidak hilang jauh lebih baik dari pada sepatu sporty yang hilang.

“dan aku merindumu…………….”

Sepatu sporty punya dua mata pisau. Pisau yang menyayat kulit sampai luka. Ia bisa juga jadi pisau yang menyayat wortel dan sawi hingga rela. Semoga sepatunya tidak ketemu dan justru ditemukan hal-hal luar biasa lainnya seperti contohnya listrik oleh Thimas Alva Edison. #oposih

Yogyakarta, 25 September 2019

Nihan Lanisy

Senin Malam di DS Records

“Mas Yuli, studio selo ga?”, tanya saya via WA.

Pertanyaan itu adalah awal mula akhirnya 6 lagu terekam malam itu. DS Records sedang kosong dan saya mengisinya.

Saya datang cuma membawa diri dan sedikit uang yang tak sengaja ada di saku celana. Gitar akustik yang biasanya saya pinjam untuk rekaman sedang dipakai Om Seto, empunya, untuk manggung. Karena Jono Terbakar menganut prinsip “semeleh” dan “nerimo”, maka akhirnya rekaman malam itu menggunakan gitar elektrik. Saya minta Mas Yuli, operator DS Records, untuk memberi efek chorus yang banyak.

Tak terasa 6 lagu sudah terekam gitarnya. Setelah itu saatnya merekam drum. Saya minta kepada Mas Yuli untuk merekam drum dengan 1 mic saja. Akhirnya, mic condensor yang biasa untuk merekam vokal di taruh di salah satu titik studio itu. Sesekali di sesuaikan untuk mendapatkan suara drum yang diinginkan.

1 jam lebih, drum selesai dan lanjut ke merekam bass. Dengan segera bass selesai dan vokal menyusul kemudian.

Merekam 6 lagu, dan memainkan semua instrumennya sendiri, ternyata cukup melelahkan. Saat giliran rekaman vokal, saya sudah terlalu lelah. “Untuk sementara gitu dulu ya, Mas”, kataku lelah kepada Mas Yuli.

Singkat cerita, keesokan harinya MP3 dari hasil rekaman tadi sudah ada di email. Siapa mau dengerin?

Tulisan ini bicara tentang proses. Sesuatu yang kalau tidak saya ceritakan mungkin tidak akan ketahuan. Proses yang kadang jadi anak tiri karena hasilnya yang menentukan di mata orang-orang.

Selalu semangat untukmu yang sedang berproses dan senantiasa dalam proses. Hasil akhir hidup adalah mati yang juga kehidupan. Cheers!

Yogyakarta, 25 September 2019

Nihan Lanisy

HackHackHack

Kemarin sempat melihat berita tentang situs kemendagri yang di hack. Saya tidak kaget karena Jono Terbakar sudah pernah di hack 2 kali websitenya.

Jono Terbakar itu seterkenal apa sih sampai-sampai di hack? Ternyata bukan pasal terkenalnya, atau bencinya, tapi sepertinya memang dunia maya adalah sebuah medan perang.

Saya sajikan datanya ya. Data ini diambil dari Wordfence, plugin security yang dipakai jonoterbakar.com

Ternyata jonoterbakar.com telah membuat #jonoterbakarworldtour kami benar-benar internasional. Minimal di dunia maya dulu.

Tabik buat para penyusup yang kejedot tembok. Silahkan di hack lagi. Gagasan tak pernah mati :*

Yogyakarta, 24 September 2019
Nihan Lanisy

Bernyanyi di Taman Rumah Sakit

Seorang ibu menangis ketika saya menyanyikan lagu Ranu Kumbolo. Kalau tidak salah, Ibu Sri Astuti namanya. Suaminya sedang dirawat di rumah sakit itu karena serangan jantung dan sudah anfal 3 kali. Hampir meninggal.

Beliau baru saja dari kantin RS Panti Rapih ketika melewati taman dan mendapati saya sedang bernyanyi lagu Ranu Kumbolo. Sampailah nyanyian itu pada ujung lirik reff Ranu Kumbolo yang berbunyi “mati juga kehidupan”. Air matanya tumpah.

“Maaf Ibu tadi kenapa menangis?”, tanya saya penasaran
“Lirikmu yang “mati juga kehidupan” tadi bikin saya nangis. Inget keadaan Bapak”, jawab Ibu

Itu adalah kali pertama saya berkesempatan menyanyikan lirik itu di depan satu (atau mungkin beberapa) orang yang merasakan dekatnya kematian hadir atas dirinya atau anggota keluarganya

Selain Ibu Sri, ada beberapa pasien berkursi roda dan berkasur (ya, kasurnya dibawa keluar dari kamar). Kami melebur disitu. Ada orang sakit, orang sehat, penunggu orang sakit, agama berbeda-beda, tujuan hadir yang berbeda pula, dan banyak hal lagi yang berbeda. Namun pagi itu kita sama, semua berada di taman yang sama dan secara bersama-sama.

Sebagai penutup, Ibu Sri mengatakan kepada saya, “Mas, kamu kok mirip Dwi Sasono yang suaminya AB Three itu”. Saya cuma bisa manut aja kalau itu, Bu hehe

Semoga musik Jono Terbakar bisa jadi obat bagi yang membutuhkan

Yogyakarta, 22 September 2019
Nihan Lanisy

0