Jono Terbakar dimulai sebagai projek solo dari Nihan Lanisy. Tepatnya tahun berapa, kami juga lupa. Yang jelas, mulai pentas-pentas pada awal tahun 2013. Tahun 2013, Jono Terbakar tampil di acara-acara garage sale yang waktu itu selalu ada tiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu di Yogyakarta.

Mundur sedikit dari waktu itu, Jono membeli HP baru bermerek Samsung Galaxy Young. Ketika digunakan untuk merekam lagu-lagunya, ternyata suaranya mashoook. Beberapa lagu direkam hanya dengan modal niat, pita suara, gitarlele, dan bantal yang menopang hape supaya agak tinggi dikit. Kemudian lagu-lagu itu diupload di Soundcloud Jono Terbakar.

Singkat cerita, pendengar dan penonton Jono Terbakar semakin banyak. Pada suatu hari, Jono mengajak Muhammad Nur Hidayat (@mascebe) untuk ikut main icik-icik. Ternyata format berdua itu keterusan. Dalam format berdua ini, album Sugeng Kunduran berhasil dirilis pada tahun 2014.

Pada tahun 2014 akhir-2015 akhir, Jono Terbakar sempat bubar karena Jono berhenti bermain musik. Lalu pada Oktober 2015, Jono Terbakar kembali dengan dirilisnya album Dunyakhirat. Dunyakhirat didanai oleh 114 orang melalui crowdfunding di Wujudkan.com.

Pada tahun 2017, secara misterus Begawan Abityomurti (@begawanaaa) bergabung menjadi crew. Karena crew tidak punya kerjaan di Jono Terbakar, maka lambat laun Begawan menjadi personil Jono Terbakar. Format bertiga bertahan sampai akhir 2017. Kemudian Jono Terbakar lebih sering tampil dan merekam lagu dalam format full-band. Pratyaksa Zufar dan Elang Mahendra bergabung untuk melengkapi posisi bass dan drum.

Singkat cerita, Jono Terbakar sekarang adalah proyek solo Nihan Lanisy yang dibantu oleh: Muhammad Nur Hidayat (icik-icik, dll), Begawan Abityomurti (gitar), Tri Sepangat Bimantara (gitar), Zico Zikri (bass), Elang Mahendra (drum).

Ceritanya akan diperpanjang lagi besok, segini dulu ya.

Bersambung