Duduk, Menyimak Lux Cantio

Semalam, saya menonton konser tahunan Paduan Suara Mahasiswa Universitas Padjajaran (PSM Unpad) berjudul Lux Cantio di Syantikara Youth Center, Jogja. Saya ingin menuliskan kesan-kesan saya di bawah ini karena menonton konser paduan suara adalah hal yang sangat jarang saya alami.

Menonton konser paduan suara mengingatkan saya kepada formalitas konser-konser musik klasik. Misalnya, tepuk tangan hanya boleh ketika lagu sudah selesai, padahal kan saya pingin tepuk tangan saat saya merasa ada bagian yang menakjubkan hehe. MC-nya juga formal sekali. Keformalan ini bukan suatu masalah, cuma saya tidak terbiasa saja.

Lagu pertama sudah menghentak saya karena dinamika dan harmonisasi suara yang luar biasa. Mulut adalah instrumen yang tak butuh dibeli di toko musik. Melihat PSM Unpad membuat saya merefleksikan syukur kita terhadap Tuhan. Bagaimana kita punya mulut untuk membuat berbagai macam suara dan membunyikan bermacam nada. Kita punya kaki yang bisa digunakan sebagai elemen bunyi semisal hentakan kaki seperti yang PSM Unpad lakukan di salah satu atau beberapa lagu. Jentikan jari yang bisa menjadi sebuah komponen bunyi yang menarik. Betapa Tuhan memberi kita sebegitu banyak opsi untuk menjadi musisi, bahkan walau kita sama sekali tak punya alat musik. Tubuh kita ternyata adalah alat musik juga.

Selepas lagu pertama, seluruh penyanyi turun dari panggung. Saya kira gilirannya PSM UGM. Ternyata semua penyanyi berdiri mengelilingi penonton. Sang konduktor pindah ke tengah-tengah penonton, kebetulan saya duduk tepat di tengah, ada bagian yang dikosongkan ternyata untuk tempat konduktor berdiri. Saya bisa melihat hentakan-hentakan naik turun tangan konduktor dari dekat. Bagian ini adalah bagian yang paling mengejutkan bagi saya, diluar ekspektasi. Saya kira seluruh lagu cuma disajikan dari atas panggung saja. Saya sebagai penonton seperti mendengarkan intro Dolby Surround Sound seperti di bioskop atau mendengarkan Wall of Sound (opo iki?).

Saya menonton bersama istri. Kami sepakat bahwa pertunjukan sangat baik namun kami cukup mengantuk. Mungkin karena kondisi tubuh yang memang lelah dan juga menurut analisis saya pribadi, karena kurangnya familiaritas lagu dan bahasa. Beberapa lagu disajikan dengan bahasa-bahasa asing, misal: Latvia, Italia, Inggris. Sudah bahasanya asing, lagunya juga tidak diketahui. Konser semalam adalah konser pengetahuan, maksudnya kami mendapat banyak pengetahuan baru namun sayangnya kami datang dengan lebih banyak harapan mendapat hiburan. Alhasil, lagu terakhir yang berjudul “Evolution of Music” yang merupakan medley dari lagu-lagu mulai dari jaman musik-musik orkestra hingga kekinian (diakhiri dengan frase “Call Me Maybe”) menjadi penawar dahaga bagi kami yang ternyata suka musik pop hehe. Beberapa penonton yang saya kenal, juga mengamini hal ini.

Ada satu hal yang cukup saya garisbawahi di pikiran saya. Melihat lagu-lagu yang dibawakan seperti lagu-lagu puji-pujian gereja (maaf kalau saya salah paham), yang juga diperkuat dengan penjelasan lagu di layar yang tersedia, saya merasa PSM Unpad adalah sebuah entitas dimana batasan-batasan dilebur. Pasalnya ada banyak orang berkerudung pada susunan penyanyi. Dilihat dari sudut pandang yang positif, PSM Unpad berhasil membuat Tuhan dan hubungan manusia dengan Tuhannya menjadi universal.

Oya, ada penampilan PSM UGM juga, PSM yang dulu saya saksikan saat saya wisuda di UGM. Ternyata penampilan PSM UGM, jika dibandingkan di acara protokoler dalam universitas, lebih asik ketika berada di luar konteks protokoler. PSM UGM membawakan 3 lagu yang cukup berbeda dari lagu-lagu yang dibawakan oleh PSM Unpad. Dengan kostum yang berbeda dan koreografi yang lebih banyak, PSM UGM berhasil memberikan tawaran pertunjukan yang berbeda dari PSM Unpad.

Kemarin ada angket yang dibagikan untuk evaluasi konser, kebetulan kami tidak bawa bolpen. Untuk angket online juga kebetulan hape saya mati, maka semoga tulisan ini bisa menjadi tebusan tanggung jawab kami atas angket yang kemarin tidak kami kumpulkan hehe.

Akhir kata, terimakasih dan selamat kepada Nusa Wicastya atas pentas, kabar dan undangannya sehingga saya bisa menonton sebuah konser luar biasanya. Tabik untuk PSM Unpad.

Yogyakarta, 2 Desember 2019
Nihan Lanisy

0