Ghost Resto

Saya kira cuma musik saja yang shifting menjadi semakin digital. Ternyata restoran juga. Disrupsi tak kenal industri #soktau

Kemarin saya ikut seminar Ghost Resto yang pembicaranya adalah Mas Gilang Margi dari Kepiting Nyinyir. Kepiting Nyiyir konon katanya (karena saya belum pernah datang atau beli) tidak punya meja makan, bungkus-only alias delivery saja. Dengan konsep ghost resto, biaya-biaya bisa ditekan. Terutama: Biaya investasi sewa tempat premium, dekorasi, dan lain-lain. Intinya cuma punya dapur yang bisa didatangi untuk take=away entah secara langsung oleh konsumen atau kebanyakan oleh driver ojek online.

Seminar itu membeberkan beberapa fakta mencengangkan tentang generasi kita hari ini: 1) Mager 2) Suka Promo. Hal ini tentu dari sudut pandang ilmu kemanusiaan bisa jadi sebuah indikator kemunduran, dari segi kesehatan atau ekonomi mungkin juga begitu. Namun namanya bisnis adalah melayani pasar. “Jual barang yang pasti laku”, kata Mas Gilang.

Jadi, jaman sekarang mau usaha kuliner sudah bukan alasan kalau tidak memulai kalau tidak punya tempat, tidak punya modal besar, atau alasan-alasan tradisional lainnya. Selama punya handphone dan internet, instagram bisa dijadikan etalase toko.

Sungguh, keinginan jualan makanan dengan metode Ghost Resto namun mempertimbangkan efek terhadap lingkungan akan membuat niat menjadi urung. Bayangkan saja ada restoran yang tidak punya alat makan dari porselen, melanin, atau perak. Semuanya plastik untuk take-away.

Lebih dari Ghost Resto, ada Ghost Kitchen. Jadi satu dapur bisa jadi dapur bermacam-macam brand yang menggunakan bahan makanan yang sama. Dunia kuliner sedang dihantui oleh hantu-hantu sekarang.

Banyak yang masih ingin saya tulis tapi males. Ngobrol aja ya kalo ketemu. Atau buat janji di 080989999 #yangtautauaja

“Semua orang butuh makan”, kata seorang pengusaha. “Iya sih, tapi apa iya semua orang mau beli makanan yang kamu jual”, kata pengusaha lainnya.

Jakarta, 10 Januari 2020
Nihan Lanisy

0