Mengalami Prihal

Siang tadi, pertama kali saya datang ke Galeri Nasional di seberang Stasiun Gambir. Saya datang untuk melihat pameran Prihal oleh Andra Matin.

Kalau saya tidak salah ingat, Bapak Suwarno Wisetrotomo pernah bilang pada suatu perkuliahan kepada kami bahwa pameran yang baik itu detilnya digarap, semisal catnya rapi, tidak ada tembok yang berlubang-lubang. Walaupun saya bukan orang seni rupa, saya suka iseng datang ke pameran-pameran. Pameran Prihal kali ini bagi saya adalah sebuah pameran yang dieksekusi dengan baik

Ketika masuk, saya disuguhi kayu yang menceritakan timeline Studio Andra Matin. Dari lorong itu, saya belajar bahwa ternyata sebuah studio punya proyek yang statusnya “completed”, “cancel”, dan “proposal”. Desain adalah perkara ide. Gagasan mahal harganya. Saya cuma jadi bertanya-tanya aja, apakah proyek yang cancel itu tetap terbayar proyeknya tapi tidak jadi dibangun atau bagaimana hehe. #ekonomi

Oya, ada hal yang menarik dari penjaga pameran. Seluruhnya menggunakan kemeja warna putih dan rompi warna putih gading. Mereka menggunakan semacam tanda yang membedakan mana pengunjung dan mana penjaga pameran. Entah kenapa, kostumnya bagi saya menarik.

Lanjut, setelah memasuki lorong timeline proyek-proyek Studio Andra Matin dari tahun 1998-2018, saya memasuki gedung pameran utama. Jadi lorong tadi adalah area outdoor bukan bangunan permanen. Masuk ke dalam, disuguhi maket-maket berukuran besar dan kecil dari Jakarta dan daerah lain di Indonesia. Disini saya merasakan sentuhan detil yang maksimal. Saya merasa masuk ke dalam ruang putih yang penuh dengan white space. Ada banyak ruang untuk istirahat di dalam situ, mengistirahatkan hati. Di ruangan itu saya melihat ada Pak Andra Matin, secara spontan saya bersalaman dan mengucapkan selamat atas pamerannya. Beliau menjawab, “selamat menikmati”.

Ruang pamer selanjutnya dibatasi oleh tirai hitam. Ruang pamer yang selanjutnya ini gelap sekali. Lampu yang ada cuma sedikit dari maket-maket yang digelar. Kata penjaga pameran, “Di dalam gelap, silahkan mengikuti lampu untuk sampai ke ruangan selanjutnya”. Dari yang putih terang langsung dimasukkan ke gelap remang. Sebuah pengalaman kontras yang asik.

Setelah itu, ada instalasi. Lantai, dinding, dan langit-langit dilapisi sesuatu yang memantulkan bayangan kita tapi bukan cermin. Jadi alas kaki harus dilepas. Di ruangan instalasi itu, saya amati cukup lama dan dekat-dekat bagaimana batako-batako (maap kalau salah, saya tidak tau istilah material) disusun sedemikian rupa sehingga menyusun sebuah “kalimat”. Kalau rumah secara umum disusun dari batu bata yang ditumpuk saja, instalasi itu menyadarkan saya bahwa beberapa bangunan dengan proses desain yang baik ternyata memang butuh keribetan lebih. Di ruangan itu ada dua beda yang saya rasakan menonjol: bentuk (tiap batako punya lubang yang bentuknya beda-beda) dan tekstur (beberapa batako menonjol, dan beberapa rata). Pengalaman mencopot sepatu, bagi saya pribadi adalah sebuah pengalaman yang unik.

Keluar dari instalasi, pindah ke gedung B. Ada sebuah bioskop mini yang memutarkan testimoni dari klien-klien Studio Andra Matin. Saya menonton 2 klien dan mendapati bahwa arsitektur bisa jadi penting bisa jadi tidak. Di gedung B hal yang paling menarik bagi saya adalah bagian Kantor Studio Andra Matin. Pengunjung disuguhi bentuk tempat kerja yang menghasilkan ide-ide arsitektur yang dipamerkan sebelumnya. Sebuah proyektor ditembak ke dinding dan sebuah video diputar. Video itu membaut ruangan itu seakan-akan sama dengan kantor aslinya. Video yang diputar adalah video taman di luar kantor.

Untuk akhiran pameran, pengunjung masuk ke sebuah ruang untuk mengambil kartu pos gratis. 1 kartu pos per pengunjung, kata sang penjaga pameran mengingatkan seorang ibu yang asyik memilih banyak kartu pos. Lalu 2 ruang terakhir adalah ruang pamer publikasi (terbitan studio andra matin (kalau saya tidak salah tangkap)) dan yang terakhir adalah ruang lego. Pengunjung akan difoto dengan kamera instan jika bisa menyusun lego sesuai petunjuk. Saya memilih tidak difoto dan menulis kertas komentar saja. Kalau saya susun legonya, takut ketahuan kemampuan arsitektur saya yang melebihi arsitek wkwk #dreamismimpi

Akhirnya saya keluar, mengambil tas yang saya titipkan. Oya, topi saja tidak boleh masuk ruang pamer. Rambut gondrong saya berkibar-kibar selama pameran. “Yang boleh masuk cuma hape dan dompet”, kata penjaga penitipan. Di ruangan itu ada juga merchendise-merchendise pameran. Harganya, buat saya, mahal. Tapi saya dapat inspirasi lebih karena pameran itu bukan sebuah produk masal maka cinderamata akan selalu terbeli oleh orang-orang yang punya koneksi tertentu dan spesial walaupun harganya mahal-mahal.

Kiranya sekian. Terimakasih Studio Andra Matin telah membuat pameran Prihal. Terimakasih atas pelajaran dan inspirasinya.

Jakarta, 9 Desember 2019
Nihan Lanisy

0