Menonton Kabar Burung

Ada beberapa band yang tak bosan-bosan saya melihatnya. Salah satunya: Kabar Burung

Mungkin ada subjektifitas yang terlalu sehingga membuat saya punya perasaaan begitu. Panggung pertama mereka sebagai band adalah ketika kami bermain bersama di Kedubes Bekasi tahun 2017 lampau. Lalu, entah bagaimana secara personal kedua entitas, Jono Terbakar dan Kabar Burung, bisa sebegitu dekat.

Kemarin, di IFI Thamrin Jakarta, saya menyaksikan suatu panggung yang sudah selayaknya didapatkan kabar burung. Sebuah panggung dengan tata suara, tata acara, dan tata lainnya yang direncanakan dengan baik. Dengan sombongnya mereka bermain dalam dua sesi. Menggunakan ganti baju dan tambahan 3 instrumen untuk sesi kedua.

Secara objektif, saya mau memberi kritik yang membangun. Pertunjukan Kabar Burung kemarin adalah yang saya nanti-nantikan. Obrolan Kibar dan Yusa diatas panggung sangat mengalir, mungkin karena adanya banyak teman yang hadir. Teman sangat penting. Mereka menyiarkan energi yang terasa di panggung dan dapat diolah oleh orang-orang dipanggung untuk menjadi energi yang lebih menarik lagi.

Kadang menyaksikan Kabar Burung yang tidak direspon penonton akan menghasilkan energi yang tidak sekuat kemarin. Semoga kedepannya, entah seperti apa ruang dan penontonnya, Kabar Burung dapat menyajikan energi yang sama dengan konser album Pesan di IFI kemarin.

Secara musikalitas sudah tidak perlu dipertanyakan, apalagi adanya Danang Foster memberi sentuhan tunang-tuning dari keyboard yang membelah kenyataan semu. Beberapa hari setelah konser, saya bertemu Danang di Atelir Ceremai. Saya menangkap meningkatnya kesombongan Danang paskakonser. Saya salut namun hal ini perlu diwaspadai karena kesombongan yang terlalu besar dan tidak pada tempatnya bisa jadi bumerang Australia yang lebih dari sekedar oleh-oleh pajangan dinding.

Salut untuk teman-teman. Semoga Kabar Burung selalu ada meskipun sukses atau tidak secara komersial. Saya yakin ada banyak orang diluar sana yang menemukan kebahagiaannya dengan mendengar atau menonton Kabar Burung.

Oya, konser kemarin adalah sebuah pelajaran baru bagi saya. Bahwa konser yang sangat tidak efisien, jika dibandingkan dengan membuat konten youtube, ternyata masih sangat dibutuhkan. Perjumpaan secara offline adalah kunci bagi kehidupan yang lebih menginjak tanah.

Bogor, 6 Januari 2020
Nihan Lanisy

0