Museum Tanah dan Pertanian

Sebuah kunjungan singkat ke Museum Tanah dan Pertanian Bogor memberi beberapa kesan. Oya, biaya masuk gratis dan ada guide gratis yang opsional (bisa dipakai atau tidak). Guide punya keterbatasan waktu sehingga kita akan diantar dengan singkat pada tiap segmen, kalau mau puas tidak usah pakai guide. Kalau bingung mending pakai guide. Saran saja sih.

Kembali ke laptop ASUS ROG, saya melihat bagaimana pengetahuan digunakan dengan baik untuk menjajah. Saya membayangkan Belanda adalah Dora The Explorer sejati yang masuk ke dalam belantara hutan untuk menemukan hal-hal yang belum diketahui. Apa tujuannya? Selain pengetahuan saja, tentunya adalah pengetahuan untuk motif ekonomi. Di Museum Tanah, terdapat sampel tanah-tanah dari seluruh Indonesia. Secara teori ada 12 jenis tanah di dunia, Indonesia punya 10 jenis. Yang tidak dimiliki cuma 2: tanah gurun dan tanah salju/es. Ini adalah pertanyaan dari Pak Guide untuk anak-anak kami yang ketika berhasil dijawab mendapatkan pin Museum Tanah.

Melihat bagaimana pengetahuan-pengetahuan itu dicari, saya tidak bisa membayangkan. Mereka masuk ke area-area yang terpencil untuk mengambil sampel tanah. Lalu dicatat jadi arsip dan diteliti lebih lanjut. Tanah ini sangat terkait dengan pertanian waktu itu. Semoga saya tidak salah dalam menulis hal ini: Pengetahuan tentang tanah membuat Belanda bisa memutuskan dimana harus membuat rel kereta, dimana menanam kelapa sawit, dimana menanam teh, dan lain-lain. Syukurlah pengetahuan ini turun ke bangsa kita. Kita sudah mendapat modal cukup baik. Nah modal itu yang kemudian patut dipertanyakan secara skeptis, apakah pengetahuan itu kemudian untuk kebaikan bangsa ini atau cuma untuk permainan segelintir orang saja?

Gedung Museum Tanah tidaklah besar dan waktu saya berkunjung tidaklah ramai. Biarlah bangsa kita tidak terlalu ngeh dengan Museum ini. Tapi kalau saya boleh kasih saran, datanglah kesana. Temukan inspirasi-inspirasi dibalik tanah dan batu yang tersedia disana. Temukan juga noni-noni Belanda yang setia berada disana jika Anda sedang beruntung, Ucapkan “Hai” jika bertemu.

Museum Pertanian menempati gedung dibelakang. Museum ini ternyata baru dibuka tahun 2019. Displaynya terlihat lebih modern namun tetap dengan estetika “goverment” yang kuat hehe #sorrytosay. Budaya pertanian Indonesia dijembrengkan disana. Mulai dari informasi mengenai kapan pertama padi masuk di Indonesia yang ternyata datanya dapati pada relief-relief candi. Lalu alat, foto, hingga reka ulang tempat tinggal petani jaman dahulu. Di lantai 1 itu saya merenung bahwa jaman sudah berubah. Jaman dahulu, orang bertani untuk sekedar menyelesaikan sebuah masalah: “lapar”. Lantai diatasnya menjelaskan tentang bagaimana kebijakan pertanian di Indonesia berganti dari tahun ke tahun.

Saya berbisik pada istri saya, “Museum ini menjelaskan sejarah bagaimana pertanian berubah dari sekedar untuk bertahan hidup hingga jadi bisnis”. Melihat kebersahajaan hidup petani jaman dahulu, saya merasa merinding. Lumbung padi jadi tempat yang sentral bagi kehidupan petani. Jaman kita sekarang, saking mudahnya membeli makanan, banyak makanan yang terbuang. Kalau kita tidak suka tinggal dibuang saja. Museum Pertanian menyentil-nyentil saya sampai ke hati. Memasak saja jarang, bagaimana mau dekat dengan bahan-bahannya hingga dapat menghayati sulitnya menanam yang kita makan.

Membeli makanan punya perenungan yang beda dengan menanam makanan itu. Membeli makanan berhubungan dengan punya uang atau tidak sedangkan menanam makanan membuat kita kenal dengan alam. Bagaimana hujan membuat banjir, bagaimana kita begitu merindukannya hujan, bagaimana baiknya Tuhan memberi kita makanan sesederhana dengan cara menancapkan biji atau benih. Saya cuma membayangkan saja, saya bukan petani.

Masuk ke gedung yang lain, ada segmen peternakan. Entah kenapa, yang dipamerkan semuanya tentang industri. Bagaimana sapi diperah hingga bisa sampai supermarket dan logika dan pengetahuan industri. Anak-anak saya harus diberi penjelasan lebih lanjut tentang ternak hewan yang tidak mengejar produktifitas. Saya semakin skeptis di gedung itu, akhirnya saya dan anak perempuan saya naik ke lantai paling atas untuk bisa memandangi Gunung Salak yang tertutupi kabut tebal.

Saat menulis tulisan ini, saya teringat seorang kawan yang bercerita pengalamannya menghadapi hama tikus saat dulu menanam di sawah. Filosofinya: tikus butuh makan, jadi beri saja makan. Ia mengitari sawahnya dengan tanaman ubi untuk makanan tikus, tikus makan ubi dan kenyang sehingga tidak makan padi. Petani sekitarnya mengira dia menggunakan dukun dan ia diusir dari sana. Silahkan diresapi sendiri cerita ini.

Akhir kata, tak ada salahnya untuk berkunjung ke Museum Tanah dan Pertanian di sebelah Kebun Raya Bogor. Semoga mendapat inspirasi untuk menjadi modern ataupun tradisional. Salam timbangan. Mohon maaf kalau tulisan diatas ada kesan-kesan sinisnya, karena saya tidak ingin menyembunyikan kesan otentik yang saya alami.

Bogor, 8 Januari 2020
Nihan Lanisy

***
Coba cari tentang “Masanobu Fukuoka” dan “Bumi Langit Institute” untuk membuat penasaran-penasaran lebih jauh tentang pertanian

0