Rasa

Hidup adalah perjalanan mengolah rasa. Rasa yang nantinya bisa dicecap, diraba, diamati, atau diterima getarannya.

Olah raga bukan tidak penting namun baiknya diseimbangi dengan olah rasa. Ada banyak cara mengolah rasa. Puasa, prihatin, diam, silaturahmi, membaca, apapun itu. Semua hal kalau diniatkan dan dimohonkan pelajarannya pada Tuhan akan menjadi olah rasa.

“Sampai otak kita sampai pada tataran non-konseptual”, kata seorang pelaku meditasi Tummo yang bisa menghangatkan tubuhnya melalui meditasi diruangan -5 derajat celcius, di sebuah tayangan pada saluran National Geographic yang dipandu Morgan Freeman.

Hidup kita dibangun dengan banyak hal-hal logis dan konseptual. Jika kita membuka diri, atau jika Tuhan membuka dengan paksa, runtuh semua logika kita. Semuanya akan tanpa syarat. Hidup tidak pernah mensyaratkan ijazah dan gelar, hidup merupakan tuntutan belajar yang tak kenal henti. Tuntutan yang tak memaksa karena semua hal menyenangkan untuk dipelajari.

Tetaplah bahagia meski jatuh dalam kubang sedih sedalam-dalamnya

Bogor, 6 Januari 2020
Nihan Lanisy

0