Surabaya, Gresik, Malang

Tuntas sudah #jonoterbakarworldtour #tursampingjakarta bersama teman-teman dari Kedubes Bekasi. Saya ingin menuliskan hal-hal yang saya ingat dan tidak ingin saya lupakan disini.

Surabaya dan Gresik adalah kota yang sangat sumuk alias hareudang. Keduanya membuat baju yang sudah dibawa cepat habis karena harus sering ganti baju. Kami berjibaku dengan laundry. Laundry pertama yang dihadapi kami adalah Laundry di hotel Red Planet seharga 25k/kg. Saya tidak ikut mencuci disana, tapi tidak ada masalah. Kemudian di Batu, waktu kami sedang libur manggung pada tanggal 1 Januari 2020, saya laundry baju seharga 20k/kg, tidak ada masalah juga. Pada hari terakhir di Surabaya, beberapa teman mulai kehabisan baju sehingga mencari laundry express. Ternyata ketika sudah jadi, bajunya banyak yang masih basah. “Jangan-jangan cuma order cuci saja, tidak pakai jemur”, canda saya wkwk

Tol sangat membantu tur kami. Surabaya-Gresik dan Surabaya-Malang dapat ditempuh dengan waktu yang relatif singkat meskipun harus menebus dengan bayar tol juga. Kami ternyata mendapatkan manfaat dari infrastruktur negara yang dibangung. Tabik dan semoga semakin banyak tol tanpa kon di Indonesia. Tapi kalau semua lewat tol, apa kabar jalan non-tol ya? Menurutmu gimana?

Selama tur, kami saling menyaksikan band lain tampil. Bagi saya pribadi, tipa band meskipun menampilkan lagu yang itu-itu saja ternyata akan terasa berbeda di tiap tempat. Perbedaan ruang, penonton, waktu, dan kelelahan saya ternyata bisa mempengaruhi pembacaan saya terhadap penampilan. Saya sangat salut untuk Fithor Faris, Grup Besar Kecil, dan Sir Lommar John yang terus menerus berproses selama tur. Pada panggung pertama kami dihadapkan ruang indoor yang tidak begitu luas dan suara sedikit cenderung memantul sehingga kurang bisa terdengar jelas kata-kata yang diucapkan. Kami belajar tentang manajemen sound pada panggung pertama. Lalu hari-hari berikutnya, beberapa dari kami tumbang, dan kebanyakan vokalis dari band-band yang tur. Kami diajari bagaimana manajemen energi dan kesehatan. Setiap hari ada pelajaran-pelajaran baru. Obrolan-obrolan dalam bisa keluar, mungkin kalau tidak menempuh pilgrimage tidak akan tertukar pikiran-pikiran di kepala.

Entah karena faktor apa, saya mendapati merchendise tidak terlalu laku di tur ini. Merchendise saya paling laku ketika tur di Jabodetabek, khususnya di Jakarta. Hal ini cukup membuat saya bingung karena tur Jono Terbakar salah satunya bertujuan untuk menjual merchendise untuk menutup biaya tur dan syukur-syukur mendapat keuntungan. Namun, lagi-lagi, tur ini secara ajaib membuka pelajaran baru, ada dana yang tak terduga datang membantu mensubsidi seluruh tur. Ada makanan-makanan gratis yang tak terduga, sehingga bisa membantu hemat dan prihatin dalam tur.

Ini adalah tur luar kota pertama Jono Terbakar yang dilakukan secara beramai-ramai. Awalnya, saya punya pikiran bahwa akan jadi repot dan berbiaya lebih tinggi. Ternyata pada akhirnya, segala pikiran negatif memang tidak ada gunannya. Tur ini justru menyadarkan saya bahwa tidak perlu ada kecemasan untuk tiap niatan dan usaha dalam kerangka kebaikan.

Terimakasih Surabaya, Gresik, dan Malang. Selain menikmati secuil kotanya, kami jadi dapat banyak saudara-saudara baru yang kedekatannya tidak bisa digantikan jika kita cuma DM-DM di Instagram. Terimakasih untuk Aiola Group, Pit Stop Kopi, Backline Malang, dan Skale Space Surabaya untuk tempatnya. Sengsu juga untuk Christabel Annora, Yellow Flower Living Water, Mind Illussion, dan D’Sandya yang telah mau bermain bersama dalam panggung-panggung kemarin.

Tur adalah silaturahmi

Bogor, 6 Januari 2020
Nihan Lanisy

0